Ini Keterlaluan. Kamu harus Menolongnya! STOP PERBUDAKAN PRT! Masukan Undang-Undang PPRT dalam Prioritas Prolegnas 2015





Lima teman saya di Medan disiksa melebihi budak. Endang, Anis dan Rukmini selamat dan lapor polisi. Tapi Cici dan Yanti, tak sempat. Mereka tewas mengenaskan.

Diduga akibat perlakuan majikan sekaligus agen penyalurnya, Syamsul Anwar, yang sudah ditangkap. Tapi selesaikah masalahnya?
Masalahnya, sampai sekarang tidak ada perlindungan hukum untuk Pekerja Rumah Tangga (PRT)! Sudah 10 tahun RUU Perlindungan PRT dicuekin DPR. Artinya, sampai sekarang PRT tidak dianggap sebagai pekerja. Karena ini, ribuan bahkan jutaan PRT lain akan mengalami hal yang sama.

Kamu mau kan bantu suarakan hak kami agar pelaku dihukum setimpal dan UU Perlindungan PRT diprioritaskan dalam Prolegnas DPR baru ini.
Seperti Anda, saya, Cici, dan Yanti adalah manusia, pekerja, memiliki hak dan membutuhkan perlindungan. PRT adalah pekerjaan penting. Jutaan orang bergantung padanya. Ia ikut menjaga roda kehidupan negeri ini.
Bersama-sama ayo kita ubah kekejaman, penunggakan, dan perbudakan; menjadi penghargaan sesama manusia.
Salam,

Wagini, PRT tinggal di Medan



 *****

Beberapa hari ini nama Cici, Yanti, Endang Murdaningsih, Anis Rahayu, dan Rukmiani muncul di dalam pemberitaan berbagai media massa. Kelima nama tersebut adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang menjadi korban kekerasan, penyiksaan dan perbudakan di Medan.

Syamsul Anwar, majikan kelima PRT sekaligus pemilik agen penyalur pembantu CV Maju Jaya, melakukan (lagi!) tindak perbudakan, penganiayaan dan pengeroyokan terhadap setidaknya lima orang PRT. Bersama isteri, anak dan keponakannya, Syamsul Anwar melakukan tindakan keji tersebut di Jalan Beo simpang Jl. Angsa Setiajadi Medan Timur. Dua diantara korban PRT bahkan meninggal dunia.

Berdasarkan laporan kejadian yang terjadi adalah sebagai berikut:
Pertama, korban mengalami penyiksaan dan kekerasan secara terus menerus, baik siang maupun malam. Tindak penyiksaan, penganiayaan dan pengeroyokan ini mengakibatkan 2 PRT meninggal yaitu Cici dan Yanti. Tindak kekerasan terus menerus tersebut mengakibatkan Cici (30) meninggal pada tanggal 28 Oktober  2014. Kekerasan yang sama dialami oleh Yanti, Iyem, Anis Rahayu, Endang Murdaningsih, Rukmiani yang ditemukan di rumah pelaku. Diduga masih banyak PRT lainnya mengalami tindak kekerasan yang sama.
Kedua, selama bekerja dan berada di rumah pelaku, korban bekerja dalam situasi perbudakan dimana korban bekerja dari jam 4.30 dini hari sampai pukul 01.00 WB. Korban hanya tidur maksimal selama 4 jam sehari. Korban tidur di lantai tanpa alas, di gang sempit dekat dapur, tanpa ruangan khusus untuk istirahat. Korban juga tidak mendapat asupan konsumsi yang layak, bahkan terkadang dua hari tanpa makanan. Bila majikan sedang marah para korban kerap disuap paksa memakan dedak dicampur duri ikan. Selama bekerja, korban tidak diizinkan keluar rumah. Bahkan yang paling menyesakkan, korban tidak dibayar upahnya. Endang misalnya hingga 5 tahun tidak dibayar!.
Ini bukan kali pertama Syamsul Arief dan keluarga melakukan penganiayaan terhadap Pekerja Rumah Tanga.

Pada tanggal 3 Februari 2011, 3 orang PRT menyelematkan diri dari rumah pelaku dengan cara melompat pagar setinggi 2 meter, yaitu Sumiati asal Grobogan Jawa Tengah, Bariah asal tasikmalaya Jawa Barat, dan Susilah asal Purbalingga Jawa tengah.

Selain itu pada 23 September 2013, 5 perempuan yang rencananya akan dipekerjakan sebagai PRT menyelamatkan diri dari rumah pelaku dengan menggunakan tali nilon dari lantai dua, kemudian mereka melakukan laporan ke Polresta Medan Sayangnya, tidak ada proses hukum terhadap pelaku H. Syamsul dan keluarganya sehingga mereka tetap bebas dan mengulang kembali perbuatannya.

Kasus kekerasan dan pelangaran hak terhadap PRT bukan saja terjadi di Medan Timur. Hal yang sama terjadi di banyak tempat di dalam maupun luar negeri. Perjuangan panjang kami, para PRT, tak kunjung dapat jawaban. Berapa banyak lagi PRT yang harus jadi korban hingga meninggal dunia? Bukankah PRT juga manusia yang punya hak sama dengan pekerja lainnya?
Jika tidak adanya pengakuan dan perlindungan negara bagi PRT, hal ini akan terus terjadi. Kami butuh Undang Undang Perlindungan PRT! Hingga saat ini, DPR dan Pemerintah belum juga mengesahkan UU Perlindungan PRT dan juga meratifikasi Konvensi ILO No. 189 tentang Kerja Layak PRT.

Meskipun sudah diperjuangkan lebih dari 10 tahun, RUU Perlindungan PRT yang seharusnya menjadi dasar pengakuan dan perlindungan PRT tidak kunjung dibahas dan disahkan. Padahal di tingkat Internasional sudah lahir Konvensi ILO 189 Kerja Layak Pekerja Rumah Tangga 16 Juni 2011.


Komisi IX DPR RI dan Badan Legislasi DPR RI harus segera memasukkan RUU Perlindungan PRT dalam daftar prioritas Prolegnas (Program Legislasi Nasional) 2015, agar RUU tersebut dapat segera dibahas dan disahkan!

Pekerja Rumah Tangga semestinya tidak dibeda-bedakan haknya dari pekerja yang lain. Sebagai pekerja, kami juga berhak atas situasi kerja layak. Kami bekerja mengerjakan tugas kerumahtanggaan yang memungkinkan anggota rumah tangga menjalankan berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Pekerjaan kami sangat penting dan dibutuhkan oleh jutaan keluarga dan nyata menopang jalannya perekonomian nasional.

Kami #PRT (Pekerja Rumah Tangga) dan segenap masyarakat sipil yang mencintai kemanusiaan dan keadilan #TIDAKAKANDIAM memperjuangkan perlindungan, penghormatan dan pemenuhan hak-hak dan situasi kerja layak PRT.

Kami juga akan terus memantau dan mendesak  penegakan hukum dari Kepolisian Resort Kota Medan, terhadap kasus penyiksaan PRT, agar kasus ini menimbulkan efek jera  bagi pelaku dan siapa saja untuk tidak melakukan tindak kekerasan.

Wagini
Pekerja Rumah Tangga bekerja di Medan
Ketua Serikat Pekerja Rumah Tangga Sumatera Utara dan Anggota JALA PRT





TANDA TANGANI PETISI INI !!!
Reaksi:

0 komentar: